Home > private dorm > prostitusi,homoseksual dan feminisme

prostitusi,homoseksual dan feminisme

Dari sekian banyak permasalahan di dunia,,entah kenapa maleb selalu tertarik utk membahas hal2 yang berkenaan (yaelah bahasanya) dgn hubungan antar manusia…

Udh lama pgn bgt sharing ttg fenomena pelacuran yang akhir2 ini berlebaaaiiiiian banget…Tiba2 keingetan dengan statementnya Soekarno di esainya yg berjudul Laki-laki dan Perempuan (Horison esai Indonesia, Kitab 1, hal 47an). Di salah satu tulisan di esai tersebut, Soekarno pernah bilang -tp gk meng-quote plek2 yaaa- :

Masyarakat kapitalis yg sekarang ini (esai ditulis taun 1963), menyukarkan sekali struggle for life bagi kaum bawahan, yang di dalamnya amat sukar sekali orang mencari nafkah, masyarakat skrg ini tidak menggampangkan pernikahan antara laki-laki dan perempuan. Orang pernah tanya kepada saya : “Bagaimanakah rupanya masyarakat yg tuan cita2kan?”
Saya menjawab : “Di dalam masyarakat yang saya cita2kan itu, tiap2 orang lelaki bisa mendapat isteri, tiap2 orang perempuan bisa mendapat suami”. Ini terdengarnya mentah sekali, tuan barangkali akan tertawa atau mengangkat pundak tuan, tetapi renungkanlah hal itu sebentar dengan mengingat keterangan saya di atas tadi, dan kemudian katakanlah, apa saya tidak benar?
Di dalam masyarakat yang struggle for life tidak seberat sekarang ini, dan dimana pernikahan selalu mungkin, di dalam masyarakat yang demikian itu niscaya persundalan boleh dikatakan lenyap, prostitusi menjadi “luar biasa” dan bukan kanker sosial yang permanen yang banyak korbannya

Well,,mempersulit pernikahan di jaman sekarang ternyata gk hanya dipersulit oleh sang pemberi otoritas izin a.k.a orangtua, tapi juga oleh sang calon mempelainya sendiri, baik laki-laki dan perempuan. Laki-laki yang mempersulit dirinya relatif pake ukuran materi, seperti blom punya ini dan itu trus ingin membahagiakan orangtua dulu; sementara perempuan umumnya mempersulit juga dengan memakai sgl keribetan urusan karier dan eksistensi diri (krn takut pernikahan hanya akan mengikat diri saja), gk pengen punya anak dulu, atau “still looking up best”.
Yaaa,gk salah juga sih untuk tidak tll menggampangkan shg nanti kita menjadi org yg asal pilih calon ini itu,,tapi juga gk berarti harus tll RIBAI (ribet dan lebai-dira mode on), shg akhirnya memilih utk pacaran berlama2 (maybe i used to)

Blom lagi ekses mempersulit pernikahan itu sedikit banyak ngaruh juga ke makin maraknya penyimpangan seksual spt homo seksual dan paham femininisme yang menurut maleb kebablasan…hubungan diantaranya mungkin saja kausatif,,misal seorang perempuan skrg yg udh sangat berdaya (butuh laki2 hanya utk kebutuhan lahiriah dan emosional saja), meanwhile laki2 jaman skrg juga gk sedikit yang gampang minderan (inget sifat hero-nya mereka) karena merasa gk worth enough buat perempuan hebat yg ia dambakan. Pada akhirnya kebuthan masing2 gk terpenuhi hingga menjamurlah homoseksual dan prostitusi…
Ngomong2 feminisme,entah mengapa maleb ngerasa esensi feminisme yg org2 pikir jaman skrg kok gk masuk akal aja. Dalam pemahaman maleb, feminisme lahir karena perempuan gk ingin diinjek dan mjd strong serta super woman juga dalam menghadapi masalah2nya..tapi jaman sekarang maleb liat,,perempuan2 cukup menjadi galak untuk menjadi seorang feminis (dan kdg gk ada korelasinya sama sekali untuk menjadi perempuan kuat)…

  1. rae
    September 21, 2008 at 4:52 am | #1

    he he he…

    okelah…

    oke, cukuplah ngeronda blognya, gue masih ngantuk neh… bulan puasa selalu ngegeser siklus tidur gue.

    kayaknya fasilitas mig33 gak cukup untuk nampung kapasitas maghleb. untung ada blog ini….

    nice to know you more, dude…

  1. No trackbacks yet.