aku, orang paling miskin di dunia
*judul di atas lagi2 diambil dari judul lagu dangdut looh..hehe..intro yang buruk.. :p
pengalaman kerja di tempat bukan kota, membuat saya lebih membuka mata pada sosok2 real grassroot yang banyak dijual orang (mulai dari para capres, partai politik, lsm, bahkan sampai mahasiswa)..
berangkat dari momen ngobrol2 saya dengan para petaniwati yang bekerja disini..
latar belakang mereka mirip :
- setengah dari mereka janda dan setengahnya lagi punya suami yang bekerja sebagai buruh di kota karawang atau pusat industri cikarang,
- penghasilan bertani sehari kurang lebih 20 ribu rupiah, – punya anak kecil usia sd – smp paling tidak satu/dua orang,
- pendidikan mereka rata-rata hanya tamat sd (sebab kalau tamat smp paling tidak bisa jadi OB di perusahaan bagus)..
kemiskinan,,, masalah klasik..tp tak tertuntaskan..
tapi bagaimana tidak? solusi yang ditawarkan kadang menurut saya pribadi kurang menyeluruh..
memang ada BLT, ada pula yg menawarkan proyek padat karya, tp sangat jarang ada yang mau membantu memberikan informasi dan pendidikan gaya hidup..
miskin karena gaya hidup.. saya percaya bgt, ini adalah salah satu akar masalah yg gk pernah diurai solusinya..
bayangkan.. dengan penghasilan suami 600ribu sebulan (aselinya sih 900 ribu sesuai UMR, tapi pakai potongan makan siang 300 ribu sebulan dari perusahaan,sadisss…) ditambah 500ribu lagi dari sang istri,, jadi total pemasukan mereka adalah sejuta lebih sedikit..(bayangin aja klo yg udh jadi janda..)
sedangkan beban hidup mereka…(hasil interview dengan sampel hingga 10 orang di desa sini)
- rokok bapaknya bisa sampe 200ribu sebulan
- pulsa suami,istri,ampe anaknya sebulan diakumulasi bisa sampe 150 ribu
- cicilan motor 450 ribu/bulan
- jajan satu anak usia SD rata-rata 3ribu/hari dengan total 90ribu sebulan
total sampai disini sudah habis 890 ribu..
sisa uangnya kurang lebih 210 ribu untuk gas, bayar listrik, plus bayar air untuk yang pake PAM, beras dan laukpauk, perawatan rumah,alat mandi dan detergen, beli baju, beli kelengkapan sekolah anak-anak mereka (hitungannya sekolah sampai SMP kan udah gratisan), isi bensin, beli HP klo udh bosen atau rusak, dan hal-hal fancy lainnya yang sebenarnya belum mereka butuhkan..
telah dianjurkan pula untuk berwiraswasta plg tidak buka warung, tapi mereka serta merta langsung bilang TIDAK MUNGKIN..karena lebih banyak ruginya (kejadian tilep menilep dan utang yg tak kunjung dibayar tp tidak enak untuk ditagih karena biasanya pelakunya adalah sodara sendiri)
mgkn tayangan televisi bisa jadi salah satu penyebabnya..budaya konsumtif dimana-mana, trend mode dan lifestyle yang tidak pernah pake peringatan
“lifestyle ini bisa menyebabkan anda KANKER (kantong kering)”
,, yaah, singkat kata tidak pernah ada ajakan atau kampanye untuk hidup hemat.. menabung hanya tinggal slogan untuk orang-orang disini..
tidak ada kesadaran bapaknya untuk plg tidak mengurangi rokoknya atau berpikir beribu-ribu kali untuk punya motor bila tidak produktif apalagi kalau bahkan luas kaki melangkahnya tidak sampai lebih dari radius 1 KM dari rumah, kesadaran si anak untuk mengurangi jajannya, kesadaran ibu-ibu untuk mengurangi gosip2 kurang pentingnya via HP, kesadaran para remajanya untuk mengurangi keinginan tampil kekinian dengan mengorbankan banyak hal..
jujur saja, kadang saya sungguh marah dan ingin menyumpahi mereka-mereka tadi..
mulai dari korban gaya hidup tadi kemudian si penjual masalah kemiskinan tadi dimana-mana, hingga diri saya sendiri..saya merasa tidak berdaya sekali..
setiap mencoba memberikan solusi pada ibu-ibu tadi untuk berani berkata tidak pada anak mereka yang menangis meminta uang jajan, hingga ketidak beranian mereka dicerai suaminya krn takut memberi saran mengurangi rokoknya, selalu saja mereka menjawab TIDAK MUNGKIN..
*bahkan mau minta tolong sama para kyai-kyai regional disinipun sama saja bohong,toh gaya hidup mereka juga tidak lebih baik..
jadi, saya minta tolong…tolong teman, beri saran… atau minimal (misal teman-teman adalah public figure di kawasan masing-masing) untuk ikut beri contoh dan penyadaran pada komunitas masing-masing agar hiduplah sesuai kemampuan..



Itu bener Bu’E ngomong gitu? Ckckck… Kok ga jauh beda kaya omongannya bapak sy yah??
waaaah, mantab nih..
nyasar disini karena kasus kpk polri, itu korupsi jg bkn rakyat kita miskin terus!!!
ayo brantas korupsi dr sgl bidang!
beneraaaan Vaaan,hehe..jgn2 orangtua kita sodaraan?
*sok nyama2in*
sepakaaaat!!!